Keluarga Besar Alumni Padmanaba 2012-2017 memiliki visi untuk mempererat jejasring alumnus SMA Negri 3 Yogyakarta dengan berbagai kegiatan yang bersifat sosial untuk almuni, guru dan siswa.

SMA NEGERI 3 YOGYAKARTA

Menelusuri sejarah SMA 3 Yogyakarta jelas akan memerlukan penelitian tersendiri yang lebih mendalam, karena perjalanan Sekolah Menengah Tingkat Atas kita tentu seirama dengan sejarah gedungnya. Sebuah bangunan tua yang telah dinyatakan sebagai salah sau bangunan cagar budaya Yogyakarta.

Bangunan bersejarah tersebut pada jaman penjajahan Belanda hingga tahun 1942 digunakan sebagai gedung sekolah Algemenee Middelbare School afdeling B, artinya Sekolah Menengah Oemoem bagian B, disingkat AMS-B. Sekolah ini merupakan lembaga pendidikan dengan tujuan untuk menampung pendudukan elit pribumi yang pada umumnya berasal dari kalangan bangsawan dan pegawai pemerintah penajajahan. Alumni AMS-B Yogyakarta tersebar diseluruh nusantara dan tidak sedikit diantaranya ikut memelopori perjuangan, aktif dalam pasang surutnya perjuangan bangsa sejak zaman pra kemerdekaan sampai pascakemerdekaan. Para alumni AMS-B bergabung dalam organisasi yang disebut Keluarga Argabagya. Pada masa penjajahan Jepang, sekitar bulan Juni 1942, sekolah AMS-B diubah menjadai Sekolah Menengah Tinggi (SMT) bagian A dan B. Sekolah kita merdeka pada tahun 1946 nama SMT berubah menjadi Sekolah Menengah Atas bagian A dan bagian B, disingkat SMA-A dan SMA-B. pada pertengahan tahun 1947, SMA-A tidak menempati gedung sekolah bersama SMA-B karena pindah ke Jl.Pakem No.2 Yogyakarta.

Setelah itu, berturut-turut berubah menjadi SMA B1 pada tahun 1949, kemudian mulai tahun 1956 berubah menjadi SMA III B, selanjutnya menjadi SMA Negeri 3 pada tahun 1964 dan kemudian pada tahun 1980 menjadi SMUN 3 sampai sekarang. Alumni SMA-A pada tahun ajaran 1946-1947 terdiri dari 3 (tiga) kelas menjadi bagian Keluarga Besar Padmanaba. Karena sebelum pindah, mereka termasuk para murid sekolah yang menempati gedung bersejarah tersebut, sebagaimana alumni SMT bagian A dan bagian B.

KELUARGA BESAR ALUMNI PADMANABA

Menelusuri sejarah SMA 3 Yogyakarta jelas akan memerlukan penelitian tersendiri yang lebih mendalam, karena perjalanan Sekolah Menengah Tingkat Atas kita tentu seirama dengan sejarah gedungnya. Sebuah bangunan tua yang telah dinyatakan sebagai salah sau bangunan cagar budaya Yogyakarta.

Bangunan bersejarah tersebut pada jaman penjajahan Belanda hingga tahun 1942 digunakan sebagai gedung sekolah Algemenee Middelbare School afdeling B, artinya Sekolah Menengah Oemoem bagian B, disingkat AMS-B. Sekolah ini merupakan lembaga pendidikan dengan tujuan untuk menampung pendudukan elit pribumi yang pada umumnya berasal dari kalangan bangsawan dan pegawai pemerintah penajajahan. Alumni AMS-B Yogyakarta tersebar diseluruh nusantara dan tidak sedikit diantaranya ikut memelopori perjuangan, aktif dalam pasang surutnya perjuangan bangsa sejak zaman pra kemerdekaan sampai pascakemerdekaan. Para alumni AMS-B bergabung dalam organisasi yang disebut Keluarga Argabagya. Pada masa penjajahan Jepang, sekitar bulan Juni 1942, sekolah AMS-B diubah menjadai Sekolah Menengah Tinggi (SMT) bagian A dan B. Sekolah kita merdeka pada tahun 1946 nama SMT berubah menjadi Sekolah Menengah Atas bagian A dan bagian B, disingkat SMA-A dan SMA-B. pada pertengahan tahun 1947, SMA-A tidak menempati gedung sekolah bersama SMA-B karena pindah ke Jl.Pakem No.2 Yogyakarta.

Setelah itu, berturut-turut berubah menjadi SMA B1 pada tahun 1949, kemudian mulai tahun 1956 berubah menjadi SMA III B, selanjutnya menjadi SMA Negeri 3 pada tahun 1964 dan kemudian pada tahun 1980 menjadi SMUN 3 sampai sekarang. Alumni SMA-A pada tahun ajaran 1946-1947 terdiri dari 3 (tiga) kelas menjadi bagian Keluarga Besar Padmanaba. Karena sebelum pindah, mereka termasuk para murid sekolah yang menempati gedung bersejarah tersebut, sebagaimana alumni SMT bagian A dan bagian B.