Berita PadmanabaBerita Sekolah

TETAP BERJIWA BESAR DALAM MASA PANDEMI

39views

Keadaan yang berubah selama pandemi karena penyebaran virus Covid-19 mengakibatkan berubahnya cara pandang dan kehidupan banyak orang terutama di Indonesia. Di antara perubahan tersebut antara lain cara menyikapi kesehatan diri keluarga dan lingkungan, pola hidup, ritme belajar ataupun bekerja, cara memandang orang lain, hingga menyikapi keadaan yang disebabkan berubahnya pula pandangan orang lain terhadap diri kita. Semua itu diperlukan proses belajar yang cepat supaya perubahan perubahan tersebut dapat diterima dan disikapi sebagaimana mestinya.

Sebagai guru perubahan yang sangat besar adalah dari interaksi dengan siswa dalam satu majlis di sebuah ruangan dengan berbagai fasilitas kelas, menjadi bertatap muka sekali waktu namun tidak dalam satu majlis atau ruang kelas yang bermakna fisik. Menghadapi kelas virtual guru mengalami perubahan besar dalam persiapan pembelajarannya, antara lain persiapan mengajar, metode pembelajaran, media, maupun evaluasinya. Hal ini memerlukan kesiapan secara fisik dan juga secara emosional. Persiapan fisik guru harus memfasilitasi diri dengan berbagai alat yang baru, komputer/laptop, kamera, clip on atau microphone, perlengkapan lighting, layar background, ataupun perlengkapan yang memadahi lainnya untuk mendukung pembelajaran virtual menjadi bagus dan optimal. Persiapan psikis atau mental antara lain mengendalikan emosi serta  mendorong diri  belajar cepat menyiapkan berbagai hal yang belum diketahui namun diperlukan dalam pembelajaran gaya baru di masa pandemi ini.

Persiapan fisik bisa diupayakan dengan berbagai cara baik dengan beaya mandiri maupun memakai fasilitas sekolah, namun persiapan psikis mutlak dari masing masing guru. Secara personal guru harus memiliki sikap optimis untuk mau belajar cepat, mengendalikan diri untuk bisa menerima keadaan yang di luar keinginan dan hati nurani seorang guru. Tak jarang kesiapan mental ini belum dimiliki oleh seorang guru, karena mentalnya belum siap sehingga perasaan cemas dan tidak percaya diri itu muncul Keterbatasan sarana, waktu, maupun kemampuan IT mengharuskan guru untuk merubah pola pikir dan tetap dalam stabilitas emosinya. Karakter guru yang stabil emosinya adalah memiliki rasa percaya diri, sikap realistis, dan optimis, tidak terobsesi dengan perasaan bersalah, tidak pula cemas maupun kesepian. Sikap tersebut diperlukan untuk menghadapi perubahan yang nyata terjadi. Guru yang memiliki stabilitas emosi mampu beradaptasi dengan perubahan keadaan yang terjadi inilah yang disebut guru yang sukses dan berjiwa besar.

Guru yang berjiwa besar mampu menerima keadaan nyata yang terjadi pada dirinya dengan lapang dada. Seperti dalam ajaran Islam doa yang terkenal dari Musa menghadapi Firaun adalah “Ya Tuhanku lapangkanlah dadaku, dan lancarkanlah lisanku, dan mudahkanlah urusanku”. Bukan kemenangan atau keberhasilan yang memihak pada kita yang dimohonkan kepada Tuhan, melainkan kekuatan yang muncul dari dalam diri kita untuk menghadapi berbagai perubahan keadaan, maka keberhasilan dan kesuksesanpun akan mengikutinya. Mampu mengondisikan diri untuk bahagia menjalani proses dalam mengikuti jadwal pembelajaran yang telah ditetapkan.

Selain berlapang dada ciri guru yang berjiwa besar adalah mampu mengurai simpul permasalahan dari dalam dirinya dengan tidak menakar dengan nafsunya. Lelah adalah nafsu, maka ukuran lelah bukanlah masalah utama yang tidak bisa dipecahkan. ”Bukankah manusia itu tidak akan memperoleh selain apa yang diusahakannya?“ (QS Annajm:39).  Jika menyerah dengan keadaan lelahnya maka yang diperoleh pun akan sebanding dengan itu.  Lelah di depan laptop, penat duduk, ataupun jemu belajar virtual bisa diatasi dengan melakukan relaksasi, refreshing dengan melakukan olahraga sederhana, mendengarkan musik, keluar sebentar melihat tanaman hijau, atau makan yang rendah kalori. Di sinilah pentingnya manajemen lelah.

Mampu berkomunikasi atau bekerja sama dengan orang lain secara sehat juga merupakan ciri guru yang berjiwa besar menghadapi pandemi. Menjaga silaturrahim dengan mengeratkan komunikasi positif yang saling mendukung dan memotivasi satu sama lain, akan menguatkan mental saat menghadapi masa yang penuh tekanan ini. Memberikan kritik dan siap dikritisi  oleh rekan yang berniat membangun kemajuan belajar sebaiknya dibangun dalam diri kita. Seperti dalam hadits Bukhori dikatakan, “Silaturrahim bukanlah yang saling membalas kebaikan, tetapi seorang yang berusaha menjalin hubungan baik meski lingkungannya merusak hubungan baik dengan dirinya”. Tentu saja meluaskan hati dengan memaafkan segala hal yang janggal dan melukai hati adalah solusi tetap menjaga hubungan baik dengan rekan kerja ataupun saudara.

Setelah mampu mengakrabkan diri dengan situasi yang baru ini dengan penuh kelapangan hati, berupaya untuk berdamai dengan lelah fisik terlebih mental, dan tetap bekerja di antara banyak orang dengan harmonis, selanjutnya tetap berupaya mengoptimalkan segala kemampuan supaya bisa menghadirkan kualitas diri. Meningkatkan pengetahuan tentang kondisi terkini menyesuaikan dengan  pembelajaran yang tepat dilakukan. Semakin meningkatkan kualitas kerja sekaligus ibadah kita dengan banyak dzikir dan muhassabah diri,  merupakan sikap mengambil hikmah dengan adanya wabah pandemi Covid-19 yang bijaksana. Tetap berjiwa besar meski keadaan berubah karena pandemi. Semangat  selalu Bapak dan Ibu guru, selamat mengemban tugas mulia sebagai pribadi yang sukses dan berjiwa besar.

 

Kontributor : Tri Khotimah Sholikhah, S.Ag, M.Pd.I

1 Comment

Leave a Response